Tiga Hal Yang Mengikuti Mayit

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ، وَمَالُهُ، وَعَمَلُهُ. فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ »

 

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tiga hal yang mengikuti mayit; dua akan kembali, dan yang tetap bersamanya adalah satu; keluarga, harta, dan amalnya akan mengikutinya. Lalu keluarga dan hartanya akan kembali, sementara amalnya akan tetap (tinggal bersamanya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)([1])

 

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam [يَتْبَعُ الْمَيِّتَ], yaitu menyertai (menemani)nya hingga ke kuburannya.

 

Dan diantara faidah-faidah lughawiyah (secara bahasa Arab) disini adalah jika ma’dud (isim, kata benda yang dibilang) itu dihilangkan, maka ‘adad (bilangan)nya boleh dimudzakkarkan, atau di muannatskan.

 

Maka bagiamanakah harta itu akan menyertai si mayit?

 

Yang dimaksud dengan yang demikian itu adalah sebagian dari hartanya. Karena kadang dia diantarkan dengan mobilnya yang ada di belakangnya, atau kadang sang anak membawa harta, dan harta mereka adalah hartanya sebelum kematiannya. Demikian seterusnya.

 

Dan bukanlah yang dimaksud disini adalah bahwa seluruh hartanya akan bersamanya. Dan pada masa lalu, biasanya budaknyalah yang mengurus jenazahnya, dan budak adalah harta.

 

Adapun keluarga yang menyertainya, maka itu adalah sesuatu yang jelas.

 

Telah diriwayatkan di dalam hadits bahwa si mayit mendengar suara seret sandal keluarganya saat mereka pulang selepas menguburkannya.

 

Yang diinginkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan hadits ini adalah agar kita memperbagusi amal…

 

Dan amal shalih memiliki keberkahan yang banyak di dunia, alam barzakh dan alam akhirat…

 

Di dalam kehidupan dunia:

 

1- Ditempatkan pengakuan di permukaan bumi bagi orang-orang shalih.

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَيَجعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحمَٰنُ وُدًّا ٩٦

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam (19): 96)

 

Maka manusiapun akan mencintainya, karena keshalihan dan kedekatan mereka kepada Allah subhaanahu wata’aalaa. Penyebutan makna ini datang dalam hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 

«إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ : إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ»

 

 “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Diapun menyeru kepada Jibril, ‘Sesugguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya, kemudian ditempatkanlah pengakuan untuknya pada penduduk bumi.” (HR. as-Syaikhani)([2])

 

2- Meraih kecintaan Allah subhaanahu wata’aalaa.

 

Penyebutan hal ini telah datang pada hadits yang terdahulu, dan pada hadits qudsi yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

«إِنَّ اللهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ»

 

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka kuumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada perkara yang telah Kuwajibkan kepadanya. Dan tiada henti-hentinya seorang hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amal-amal sunnah hingga Aku mencintainya…”([3])

 

Dan inilah tujuan orang-orang yang bergegas menuju kepadanya, dan yang diusahakan oleh orang-orang yang ikhlash untuk meraihnya. Maka nikmat yang manakah yang bisa menandingi kenikmatan ini? Dan manakah yang lebih agung dari cinta Allah kepadamu?

 

  1. Penghapusan kesalahan-kesalahan;

 

Siapakah diantara kita yang tidak berbuat dosa? Siapakah diantara kita yang tidak bermaksiat kepada Allah? Manusia pilihan shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ»

 

“Demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, maka pastilah Allah akan melenyapkan kalian, kemudian Dia akan mendatangkan suatu kaum (lain) yang mereka akan berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim)([4])

 

Dan bukanlah yang dimaksud disini adalah memotivasi untuk berbuat dosa, akan tetapi ia adalah suatu narasi kenyataan yang harus terjadi. Maka yang menjadikan kita dicela adalah kita meninggalkan istighfar, sementara kita melakukan dosa.

 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

«كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ »

 

“Setiap anak cucu Adab adalah orang-orang yang banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah)([5])

 

Akan tetapi, perbedaan antara orang shalih dan selainnya adalah bahwa orang shalih, jika dia berbuat dosa, maka dia tidak melanjutkan kesalahannya, tidak terus melebar di dalam dosanya, bahkan dia segera meninggalkannya jika diingatkan dengan nama Allah. Adapun selainnya, maka sebaliknya.

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُم طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبصِرُونَ ٢٠١ وَإِخوَٰنُهُم يَمُدُّونَهُم فِي ٱلغَيِّ ثُمَّ لَا يُقصِرُونَ ٢٠٢

 

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (QS. al-A’raaf (7): 201-202)

 

Maka diantara keberkahan amal shalih adalah bahwa dosa orang-orang yang beramal shalih akan dihapus oleh Allah subhaanahu wata’aalaa.

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢

 

“Dan sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaahaa (20): 82)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

وَعَدَ ٱللهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغفِرَةٌ وَأَجرٌ عَظِيمٌ ٩

 

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Maidah (5): 9)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغفِرَةٌ وَرِزقٌ كَرِيمٌ ٥٠

 

“Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia.” (QS. al-Hajj (22): 50)

 

  1. Sebaik-baik makhluk adalah yang beramal dengan amal-amal shalih;

 

Harta, kedudukan, dan banyaknya anak tidak akan menjadi pertimbangan apapun di sisi Allah subhaanahu wata’aalaa jika orang yang Allah berikan nikmat-nikmat tersebut berbuat kerusakan. Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

وَمَا يُغنِي عَنهُ مَالُهۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ ١١

 

“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. al-Lail (92): 11)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

وَمَآ أَموَٰلُكُم وَلَآ أَولَٰدُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُم عِندَنَا زُلفَىٰٓ إِلَّا مَن ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُم جَزَآءُ ٱلضِّعفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُم فِي ٱلغُرُفَٰتِ ءَامِنُونَ ٣٧

 

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga).” (QS. Saba` (34): 37)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

وَأَمَّا مَن أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيتَنِي لَم أُوتَ كِتَٰبِيَه ٢٥ وَلَم أَدرِ مَا حِسَابِيَه ٢٦ يَٰلَيتَهَا كَانَتِ ٱلقَاضِيَةَ ٢٧ مَآ أَغنَىٰ عَنِّي مَالِيَه ٢٨ هَلَكَ عَنِّي سُلطَٰنِيَه ٢٩

 

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka Dia berkata: “Wahai Alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku.” (QS. al-Haaqqah (69): 25-29)

 

Lalu bagaimanakah kedudukan manusia akan saling mengungguli di sisi Rabb mereka? Dengan amal shalih, dan inilah bagian dari keberkahan amal shalih tersebut…

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

إِنَّ أَكرَمَكُم عِندَ ٱللهِ أَتقَاكُم

 

“… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu…” (QS. al-Hujuraat (49): 13)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُم خَيرُ ٱلبَرِيَّةِ ٧

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. al-Bayyinah (98): 7)

 

  1. Ada penjagaan dan pertolongan Allah bagi orang yang ahli beramal shalih.

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

وَهُوَ يَتَوَلَّى ٱلصَّٰلِحِينَ ١٩٦

 

“… dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS. al-A’raaf (7): 196)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ يَهدِيهِم رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِم تَجرِي مِن تَحتِهِمُ ٱلأَنهَٰرُ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ٩

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya([6]), di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.” (QS. Yûnus (10): 9)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ

 

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; …” (QS. al-Baqarah (2): 257)

 

Penghulunya orang-orang shalih shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

«احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ»

 

“Jagalah Allah, Allah akan menjagamu.”(HR. Ahmad, at-Tirmidzi)([7])

 

Dan di dalam hadits Qudsi yang telah berlalu bersama kita,

 

«وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ»

 

“Dan tiada hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amal-amal sunnah hingga Aku mencintainya; maka jika Aku mencintainya, jadilah Aku sebagai pendengarannya yang dengannya dia mendengar. (Jadilah Aku) penglihatannya yang dengannya dia melihat; (jadilah Aku) tangannya yang dengannya dia menyergap; dan (jadilah Aku) sebagai kakinya, yang dengannya dia berjalan. Dan jika dia meminta kepada-Ku, pastilah Aku akan berikan kepadanya permintaannya, dan sungguh jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, pastilah Aku akan memberikan perlindungan kepadanya.”([8])

 

  1. Allah akan menjaga keturunan orang-orang shalih

 

Tentangnya, Rabbuna berfirman,

 

وَأَمَّا ٱلجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَينِ يَتِيمَينِ فِي ٱلمَدِينَةِ وَكَانَ تَحتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَستَخرِجَا كَنزَهُمَا رَحمَةً مِّن رَّبِّكَ وَمَا فَعَلتُهُۥ عَن أَمرِيۚ ذَٰلِكَ تَأوِيلُ مَا لَم تَسطِع عَّلَيهِ صَبرًا ٨٢

 

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. al-Kahfi (18): 82)

 

Maka penjagaan Allah terhadap dua anak muda itu adalah karena disebabkan oleh keshalihan orang tua keduanya.

 

  1. Kehidupan yang mulia

 

Tidaklah penting keberadaan kehidupan yang mulia itu terbatasi pada harta, dan pemberian yang berlimpah ruah! Betapa banyak manusia yang menghimpun perbendaraannya dengan harta yang banyak, sementara dia adalah hamba yang paling sengsara dikehidupan ini dan kehidupan akhir?!

 

Akan tetapi kehidupan yang mulia itu adalah kebahagiaan, qana’ah (menerima apa adanya), kemudahan segala urusan, kenyamanan jiwa, kelapangan dada, dan ketenangan hati. Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

مَن عَمِلَ صَٰلِحا مِّن ذَكَرٍ أَو أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُواْ يَعمَلُونَ ٩٧

 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl (16): 97)

 

Betapapun kefaqiran mengelilinginya, kelaparan mendiami perutnya, dan tidak pernah berpisah dengannya, dan seandainya kemelaratan selalu menyertainya seperti bayangannya sendiri, maka akan tetap sebagai orang yang berbahagia selagi masih termasuk golongan orang-orang yang beriman lagi shalih. Itu adalah janji Allah, dan siapakah yang lebih jujur perkataan dan pembicaraannya daripada Allah?

 

  1. Ketenangan pada saat sakaratul maut

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللهُ ثُمَّ ٱستَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيهِمُ ٱلمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحزَنُواْ وَأَبشِرُواْ بِٱلجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُم تُوعَدُونَ ٣٠

 

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat (41): 30)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, [Malaikat akan turun kepada mereka] yaitu pada saat kematian seraya berkata, [Janganlah kamu takut] dari segala perkara akhirat yang pernah kamu lakukan sebelumnya, [dan janganlah merasa sedih], atas apa yang kalian tinggalkan dari segala perkara dunia, baik berupa anak, keluarga, harta, ataupun hutang, karena kami yang menggantikan kalian padanya, [dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu], maka merekapun memberitakan berita gembira dengan hilangnya segala keburukan, dan teraihnya segala kebaikan.”([9])

 

Adapun keberkahan amal shalih di dalam alam barzakh, maka pelaku amal shalih,

 

  1. Akan berbahagia dengan akhir perjalanannya

 

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

«إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ، فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ لِأَهْلِهَا: يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَ الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ»

 

“Jika jenazah telah diletakkan, lalu kaum laki-lakipun memikulnya di atas pundak-pundak mereka. Maka jika jenazah itu adalah jenazah orang shalih, maka dia berkata, ‘Segerakan aku.’ Jika ia bukanlah jenazah shalih, ia berkata kepada keluarganya, ‘Celaka, kemana kalian akan pergi dengannya?’ Segala sesuatu mendengar suaranya, kecuali manusia, dan seandainya manusia melihatnya, pastilah ia akan pingsan.” (HR. al-Bukhari)([10])

 

  1. Dia akan berbahagia di dalam kuburnya, sebagaimana disebutkan di dalam hadits al-Barraa` bin ‘Aazib yang panjang.

 

Adapun keberkahannya di akhirat,

 

  1. Pelaku amal shalih akan diringankan pada padang mahsyar

 

Hari kiamat akan melewati orang-orang shalih sebagaimana berlalunya waktu antara zhuhur dan ‘ashar, sebagaimana di dalam hadits shahih dari Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Keberkahan teragung yang diraih oleh seorang manusia karena amal shalihnya adalah sorga Allah, dan negeri kemuliaan-Nya.

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَت لَهُم جَنَّٰتُ ٱلفِردَوسِ نُزُلًا ١٠٧ خَٰلِدِينَ فِيهَا لَا يَبغُونَ عَنهَا حِوَلًا ١٠٨

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” (QS. al-Kahfi (18): 107-108)

 

Wahai saudaraku, bukankah sudah waktunya bagi kita untuk menerima Allah? Bukankah telah datang waktunya untuk bersungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Allah? Berapa lamakah Anda akan tinggal di dalam kehidupan ini? Seandainya Anda terus bersujud di atas tanah karena Allah yang Maha Pemurah sepanjang usia Anda semuanya, maka semua itu tidak akan bisa sebanding dengan satu waktu saja di sorga Allah? Lalu bagaimanakah Anda berpaling dari Allah, sementara Allah tidak membebani Anda untuk itu. Ia hanyalah keseriusan, kesungguhan dan amal disertai memperhatikan kemashlatahan dunia Anda.

 

وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنيَا وَأَحسِن كَمَآ أَحسَنَ ٱللهُ إِلَيكَ

 

“… dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,…” (QS. al-Qashash (28): 77)

 

Ia hanyalah melakukan kebaikan-kebaikan sesuai dengan kelapangan Anda, serta menjauh dari segala kemungkaran. Apakah ini mustahil? Sekali-kali tidak.

 

Sesungguhnya orang-orang musyrik akan menyesali kesyirikan mereka, dan menyesali kekosongan lembaran-lembaran amal mereka dari amal-amal shalih.

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُم نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقضَىٰ عَلَيهِم فَيَمُوتُواْ وَلَا يُخَفَّفُ عَنهُم مِّن عَذَابِهَا كَذَٰلِكَ نَجزِي كُلَّ كَفُورٖ ٣٦ وَهُم يَصطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخرِجنَا نَعمَل صَٰلِحًا غَيرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعمَلُ أَوَ لَم نُعَمِّركُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ فَذُوقُواْ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ ٣٧

 

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan”. dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS. Faathir (35): 36-37)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلمَوتُ قَالَ رَبِّ ٱرجِعُونِ ٩٩ لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكتُ كَلَّآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرزَخٌ إِلَىٰ يَومِ يُبعَثُونَ ١٠٠

 

“ (Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)([11]), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan([12]).” (QS. al-Mu`minuun (23): 99-100)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

وَلَو تَرَىٰٓ إِذِ ٱلمُجرِمُونَ نَاكِسُواْ رُءُوسِهِم عِندَ رَبِّهِم رَبَّنَآ أَبصَرنَا وَسَمِعنَا فَارجِعنَا نَعمَل صَٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ ١٢

 

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. as-Sajdah (32): 12)

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,

 

يَومَ يَأۡتِي تَأوِيلُهُۥ يَقُولُ ٱلَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبلُ قَد جَآءَت رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَآءَ فَيَشفَعُواْ لَنَآ أَو نُرَدُّ فَنَعمَلَ غَيرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعمَلُ

 

“… pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya([13]) sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami membawa yang hak, maka Adakah bagi Kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi Kami, atau dapatkah Kami dikembalikan (ke dunia) sehingga Kami dapat beramal yang lain dari yang pernah Kami amalkan?…” (QS. al-A’raaf (7): 53)

 

(Diambil dari kitab Tsulaatsiyaat Nabawiyah Jilid III, DR. Mihran Mahir ‘Utsman, dialih bahasakan oleh Abu Rofi’ Muhammad Syahri)

_______________

Footnote:

([1]) HR. al-Bukhari (6149), Muslim (2960)-pent

([2]) HR. al-Bukhari (3209, 6040), Muslim (2637)-pent

([3]) HR. al-Bukhari (6137), Ibnu Hibban (347), Ahmad (26236), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (1/149)-pent

([4]) HR. Muslim (2749), Ahmad (13518)

([5]) HR. at-Tirmidzi (2499), Ibnu Majah (4251), Shahiih al-Jaami’ (4515), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (3139), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (10/151)

([6]) Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga. (Terj. Depag RI)

([7]) HR. at-Tirmidzi (2516); Ahmad (2804, 6229), Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata, ‘Sanadnya kuat.’; al-Hakim (6304); Shahiih al-Jaami’ (2961, 6806, 7957), al-Misykah (5302), Zhilaalul Jannah (315, 318), as-Shahiihah (2382), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (3/341)-pent

([8]) HR. al-Bukhari (6137), Ibnu Hibban (347), Ahmad (26236), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (1/149)-pent

([9]) Tafsiir al-Qur`aan al-‘Azhiim (IV/480), dengan ringkas

([10]) HR. al-Bukhari (1251, 1314) An-Nasa-iy (1909), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (2/94)-pent

([11]) Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman. (Terj. Depag RI)

([12]) Maksudnya: mereka sekarang telah menghadapi suatu kehidupan baru, Yaitu kehidupan dalam kubur, yang membatasi antara dunia dan akhirat. (Terj. Depag RI)

([13]) Maksudnya: orang-orang yang tidak beramal sebagaimana yang digariskan oleh Al Quran. (Terj. Depag RI)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *