Hijrah Nabi ﷺ: Bagaimana Pendapatmu Tentang Dua Orang di mana Allah adalah yang Ketiganya?!

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي الْغَارِ، فَرَأَيْتُ آثَارَ الْمُشْرِكِينَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا! قَالَ: «مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا». [متفق عليه]

 

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menceritakan kepadaku, ia berkata: “Aku pernah bersama Nabi ﷺ di dalam gua (Tsur). Lalu aku melihat jejak kaki orang-orang musyrik, maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sekiranya salah seorang dari mereka melihat ke bawah telapak kakinya, niscaya dia akan melihat kita!’ Beliau bersabda: ‘Bagaimana pendapatmu tentang dua orang di mana Allah adalah yang ketiganya?’” [Muttafaq ‘Alaih]

 

Makna Global Hadis (Al-Ma’na al-Ijmali):

 

Hadis ini menggambarkan salah satu fase dari tahapan-tahapan hijrah Nabi kita Muhammad ﷺ bersama sahabat seperjalanannya, Abu Bakar ash-Siddiq radhiyallahu ‘anhu, menuju Madinah Munawwarah. Di dalam hadis ini, Abu Bakar ash-Siddiq mengungkapkan rasa takutnya yang teramat besar atas keselamatan Rasulullah ﷺ, agar beliau mendapatkan ketenangan di sisi Nabi ﷺ dan kesempurnaan rasa percaya terhadap penjagaan serta perlindungan Allah. Maka sabda beliau: 

 

مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا”؟

 

“Bagaimana pendapatmu tentang dua orang di mana Allah adalah yang ketiganya?!” memiliki makna: dengan bantuan pertolongan dan kemenangan-Nya, bukan sekadar Allah mengetahui keadaan mereka. Sungguh benar penyair yang berkata:

 

عِنَايَةُ اللهِ أَغْنَتْ عَنْ مُضَاعَفَةٍ           مِنَ الدُّرُوعِ وَعَنْ عَالٍ مِنَ الْأُطُمِ

 

“Perlindungan Allah membuatmu tidak lagi membutuhkan baju besi yang berlapis-lapis, maupun benteng-benteng yang tinggi menjulang.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis:

 

  1. Mengambil sebab (berikhtiar): Sebenarnya Nabi ﷺ mampu untuk berhijrah secara terang-terangan di depan mata dan telinga kaum Quraisy, dan Allah Ta’ala pasti akan menjaga beliau dari mereka, sebagaimana Allah telah menjaga beliau saat beliau keluar dari rumah di tengah-tengah kepungan mereka. Akan tetapi, ini merupakan pendidikan Rabbani bagi Nabi ﷺ—dan melalui beliau untuk umatnya—tentang pentingnya mengambil sebab (melakukan ikhtiar).
  1. Kesempurnaan meneladani Nabi ﷺ menuntut dilakukannya pengambilan sebab (ikhtiar) tanpa bersandar sepenuhnya pada sebab tersebut. Karena sesungguhnya yang menjaga Rasulullah ﷺ dan sahabat beliau bukanlah gua tersebut, melainkan Allah Jalla wa ‘Ala sajalah yang menjaga mereka.
  2. Agungnya tawakal Nabi ﷺ kepada Allah Ta’ala.
  3. Di antara bentuk meneladani Nabi ﷺ adalah menghadirkan rasa percaya kepada Allah Ta’ala di setiap waktu, terlebih lagi pada saat mengalami ketakutan dan kesulitan.
  4. Keutamaan Abu Bakar ash-Siddiq radhiyallahu ‘anhu dan kedudukannya yang tinggi di sisi Nabi ﷺ.

 

(Di alih bahasakan dari al-Arba’uun Fii as-Siirah an-Nabawiyah (40 Hadiitsan Mukhtaaran Fii Siirati Khaatami al-Anbiyaa-i ﷺ) Prof. Dr. Adil bin Ali al-Syaddi & Prof. Muhammad bin Abdurrahim al-Arabi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *