Perasaan Takut Miskin Dan Cara Mengobatinya

Naskah Khutbah Jum’at Dengan tema: Perasaan Takut Miskin Dan Cara Mengobatinya. Semoga Bermanfaat

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، فَقَالَ تَعَالَى

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

أَمَّا بَعْدُ،

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

 

  • Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah E dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segenap larangan-Nya.

 

  • Dalam kehidupan dunia ini, salah satu penyakit hati yang kerap menjangkiti manusia adalah rasa cemas berlebihan terhadap masa depan ekonomi dan perasaan takut miskin.
  • Kekhawatiran ini sering kali merampas ketenangan jiwa,
  • memicu kepanikan,
  • hingga mendorong seseorang berbuat kikir,
  • menolak bersedekah,
  • bahkan menempuh cara-cara haram dalam mencari nafkah.

 

Ma’aasyiral Muslimin

  • Perlu kita sadari bahwa perasaan takut miskin yang berlebihan ini merupakan salah satu pintu utama bisikan setan.
  • Allah E berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir); sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [1][2]

  • Sebagaimana diterangkan oleh sahabat Ibnu Abbas L, setan membisikkan rasa takut miskin agar manusia menahan hartanya dan enggan berbagi [3][4].
  • Ketika rasa takut tersebut menguasai hati, manusia menjadi rentan melanggar batas-batas syariat demi menimbun harta kekayaan [1][5].

 

Jamaah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah,

  • Agar hati kita terbebas dari jerat ketakutan ini, Islam mengajarkan beberapa obat dan penawar yang kokoh:
  1. Menanamkan Keyakinan dan Tawakal Sejati kepada Allah
  • Allah Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq) telah menjamin penghidupan setiap makhluk yang diciptakan-Nya. Kewajiban hamba adalah berusaha dengan cara yang halal dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
  • Rasulullah H menggambarkan hakikat tawakal ini dalam sabdanya dari sahabat Umar bin Al-Khattab I:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

“Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; yang berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di petang hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad) [6][7]

  • Hadits ini mengajarkan bahwa tawakal bukanlah berpangku tangan tanpa ikhtiar, melainkan melakukan usaha seraya menggantungkan keyakinan penuh kepada Allah [8][9].

 

  1. Menyadari Hakikat Kekayaan Jiwa (Qana’ah)
  • Kekayaan yang hakiki bukanlah timbunan materi yang berlimpah, melainkan hati yang selalu merasa cukup atas ketetapan Allah.
  • Dari sahabat Abu Hurairah I, Rasulullah H bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) [10][11]

  • Orang yang memiliki sifat qana’ah (merasa cukup dan ridha) akan senantiasa merasakan ketenteraman, sementara orang yang jiwanya diliputi ketamakan akan selalu merasa kekurangan meski hartanya melimpah [10][12].

 

  1. Memperbanyak Infak dan Sedekah
  • Setan menakut-nakuti bahwa sedekah membuat harta berkurang, padahal Allah menjanjikan keberkahan dan ganti yang berlipat ganda bagi orang yang gemar berinfak [1][13].
  • Dengan bersedekah, seorang mukmin secara nyata melawan bisikan setan dan membuktikan kepercayaannya pada janji Allah E [14][15].

 

  1. Senantiasa Berdoa dan Memohon Perlindungan kepada Allah
  • Rasulullah H mengajarkan umatnya agar memohon perlindungan dari fitnah dan keburukan kemiskinan yang dapat merusak agama dan kehormatan seorang hamba [16][17].
  • Di antara doa yang sering beliau panjatkan di penghujung shalat adalah:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ»

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran, kefakiran, dan siksa kubur.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)[18][19]

  • Semoga Allah E mengaruniakan kepada kita hati yang qana’ah, melapangkan rezeki yang halal dan berkah, serta menjaga keimanan kita dari segala bentuk bisikan dan godaan setan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ البَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ أَجَلَكُمْ مَحْدُودٌ وَرِزْقَكُمْ مَقْسُومٌ، فَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ، فَإِنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لَا يُنَالُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

  • Marilah kita senantiasa memupuk rasa percaya diri atas ketetapan Allah,
  • menguatkan ikhtiar yang halal, dan bersyukur atas setiap karunia yang telah dilimpahkan kepada kita.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ:

﴿إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الكُفْرِ وَالفَقْرِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا نُفُوسًا قَانِعَةً، وَقُلُوبًا مُطْمَئِنَّةً، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً شَاكِرَةً.

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Dipublikasikan dalam bentuk pdf oleh www.attabiin.com

 

Sumber:

[1] Tafsir al-Khazin Lubab al-Tawil fi Maani al-Tanzil — vol. 1, p. 204

[2] al-Tafsir al-Qurani lil-Quran — vol. 2, p. 343

[3] Tafsir al-Tabari Jami al-Bayan — vol. 4, p. 711

[4] al-Kifaya fi al-Tafsir bil-Mathur wa al-Diraya — vol. 5, p. 364

[5] al-Tafsir al-Qayyim = Tafsir al-Quran al-Karim li-Ibn al-Qayyim — vol. 1, p. 170

[6] al-Durar al-Muntaqah min al-Kalimat al-Mulqah — vol. 2, p. 292

[7] Musnad al-Faruq li-Ibn Kathir t Imam — vol. 3, p. 30

[8] al-Muntaqa min Fatawa al-Aimma al-Alam — vol. 1, p. 27

[9] Hayat al-Hayawan al-Kubra — vol. 2, p. 136

[10] Tawfiq al-Rabb al-Munim bi Sharh Sahih al-Imam Muslim — vol. 3, p. 192

[11] al-Jami al-Kamil fi al-Hadith al-Sahih al-Shamil al-Murattab ala Abwab al-Fiqh — vol. 12, p. 144

[12] al-Bahr al-Muhit al-Thajjaj fi Sharh Sahih al-Imam Muslim ibn al-Hajjaj — vol. 20, p. 63

[13] al-Tafsir al-Wasit li-Tantawi — vol. 1, p. 618

[14] Tafsir al-Maraghi — vol. 3, p. 41

[15] al-Tafsir al-Munir — vol. 3, p. 63

[16] Dhakhirat al-Uqba fi Sharh al-Mujtaba — vol. 15, p. 380

[17] al-Mufhim lima ashkal min Talkhis Kitab Muslim — vol. 7, p. 33

[18] al-Musnad al-Mawdui al-Jami lil-Kutub al-Ashara — vol. 11, p. 221

[19] al-Musnad al-Mawdui al-Jami lil-Kutub al-Ashara — vol. 11, p. 221

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *