Di Antara Akhlak Nabi ﷺ Sebelum Diutus Menjadi Rasul: Kesempurnaan Sifat-Sifat Nabi ﷺ

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي قِصَّةِ بَدْءِ الْوَحْيِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا أَتَاهُ جِبْرِيلُ رَجَعَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ إِلَى خَدِيجَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، ثُمَّ لَمَّا ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ قَالَ لَهَا: «لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي»! فَقَالَتْ خَدِيجَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: «كَلَّا وَاللهِ مَا يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ». [متفق عليه]

 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam kisah permulaan turunnya wahyu, bahwasanya Nabi ﷺ ketika didatangi oleh malaikat Jibril, beliau pulang dalam keadaan hatinya gemetar menemui Khadijah radhiyallahu ‘anha. Kemudian setelah rasa takutnya hilang, beliau bersabda kepadanya (Khadijah): “Sungguh, aku mengkhawatirkan keselamatan diriku!” Maka Khadijah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya engkau senantiasa menyambung tali silaturahim, menanggung beban orang lemah, membantu orang yang tidak punya (miskin), memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa musibah demi membela kebenaran.” [Muttafaq ‘Alaih]

 

Kosakata Asing (Gharib al-Hadith):

 

  • Ar-Raw’ (الرَّوْعُ): Rasa takut dan cemas (keterkejutan).

 

  • Al-Kall (الْكَلَّ): Beban yang berat. Termasuk dalam cakupan “menanggung beban” (haml al-kall) adalah memberi nafkah atau bantuan finansial kepada orang yang lemah, anak yatim, keluarga (tanggungan), dan sejenisnya.

 

  • Taksib al-Ma’dūm (تَكْسِبُ الْمَعْدُومَ): Yaitu memberikan pemberian (bantuan) secara sukarela (tabarru’) kepada orang-orang berupa barang/kebutuhan yang tidak mampu mereka miliki atau dapatkan sendiri.

 

  • Taqri ad-Dhaif (تَقْرِي الضَّيْفَ): Menyiapkan hidangan makanan serta tempat singgah baginya (memuliakan tamu).

 

  • An-Nawā’ib (النَّوَائِبُ): Kejadian-kejadian penting atau musibah-musibah yang menimpa.

 

Makna Global Hadis (Al-Ma’na al-Ijmali):

 

Sesungguhnya Khadijah radhiyallahu ‘anha dalam hadis ini berusaha sungguh-sungguh untuk menenangkan hati Nabi ﷺ dan menepis sama sekali kemungkinan beliau akan tertimpa keburukan apa pun. Khadijah berargumen dengan kebaikan-kebaikan akhlak yang terkumpul pada diri Nabi ﷺ serta karakter-karakter mulia beliau yang dapat menolak segala macam keburukan. Sungguh, beliau ﷺ senantiasa membantu kaum kerabat dan sanak familinya,  serta memikul tanggung jawab untuk mengurusi orang-orang lemah yang tidak mampu bekerja mencari nafkah, menyediakan keperluan masyarakat luas yang mereka butuhkan, dan memuliakan para tamu yang berkunjung.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis:

 

  • Kesempurnaan sifat Ibunda Khadijah radhiyallahu ‘anha, ketajaman pandangan pemikirannya, kekuatan jiwanya, keteguhan hatinya, serta keagungan pemahamannya (fiqh).

 

  • Bahwa kemuliaan akhlak dan tabiat-tabiat kebaikan adalah sebab mendapatkan keselamatan dari tempat-tempat kebinasaan dan malapetaka (masāri’ as-sū’).

 

  • Diperbolehkannya memuji seseorang secara langsung di hadapannya pada kondisi-kondisi tertentu yang mengandung kemaslahatan nyata.

 

  • Dianjurkan menenangkan hati orang yang sedang tertimpa ketakutan akan suatu urusan, memberinya kabar gembira, serta menyebutkan faktor-faktor yang dapat membawa keselamatan baginya.

 

  • Di antara tanda-tanda kejujuran kerasulan Nabi ﷺ adalah kondisi kejiwaan yang beliau alami ini ketika wahyu mendadak datang mengejutkannya pertama kali, di mana beliau sama sekali tidak pernah berambisi, mempersiapkan diri, atau mengharapkan kenabian tersebut sebelumnya.

 

 

(Di alih bahasakan dari al-Arba’uun Fii as-Siirah an-Nabawiyah (40 Hadiitsan Mukhtaaran Fii Siirati Khaatami al-Anbiyaa-i ) Prof. Dr. Adil bin Ali al-Syaddi & Prof. Muhammad bin Abdurrahim al-Arabi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *