Petunjuk Jalan Lurus
﴿إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ﴾
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)
Demikianlah firman Dzat yang menurunkan Al-Qur’an ini kepada nabi-Nya ﷺ, dan ayat ini menggariskan sebuah kaidah Al-Qur’an yang agung, yang membuat seorang mukmin bertambah yakin dengan Al-Qur’an ini, dan bahwa ia adalah satu-satunya kitab yang relevan untuk setiap zaman dan tempat.
Dan renungkanlah bagaimana Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman:
﴿لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ﴾
“kepada (jalan) yang lebih lurus”, dan Dia tidak berfirman: “kepada jalan-jalan yang lurus”, melainkan kata tersebut datang dalam bentuk superlatif (af’al at-tafdhil): ﴿أَقْوَمُ﴾ “lebih lurus”, untuk mengingatkan seorang muslim bahwa seandainya ditemukan sebuah metode yang lurus dan metode yang lebih lurus, maka sungguh engkau akan mendapati bahwa Al-Qur’an telah menunjuki kepada yang lebih lurus. Maka tidak ada ruang untuk merevisi metodenya, dan tidak heran, karena ia adalah wahyu yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
Para pendahulu kita yang saleh (salafush shalih) telah menyadari kedalaman makna ayat yang mulia ini. Inilah salah seorang imam Tabi’in – Qatadah rahimahullah – yang menjelaskan sebagian dari maknanya seraya berkata:
«إِنَّ الْقُرْآنَ يَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَدَوَائِكُمْ: فَأَمَّا دَاؤُكُمْ فَالذُّنُوبُ وَالْخَطَايَا، وَأَمَّا دَوَاؤُكُمْ فَالِاسْتِغْفَارُ»
“Sesungguhnya Al-Qur’an menunjukkan kepada kalian penyakit kalian dan obat kalian: adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan, sedangkan obat kalian adalah memohon ampun (istighfar).” ([1])
Dan ini adalah Al-‘Allamah Asy-Syinqithi rahimahullah yang menulis enam puluh halaman dalam kitab tafsirnya untuk ayat yang mulia ini, yang di dalamnya beliau berbicara tentang contoh-contoh kasus yang diselesaikan oleh Al-Qur’an, dan petunjuknya kepada jalan yang paling lurus dalam menyelesaikannya. Beliau mengawalinya dengan perkataannya: “Dan ayat yang mulia ini, Allah Jalla wa ‘Ala telah mengumpulkan secara global (merangkum) di dalamnya semua petunjuk yang ada dalam Al-Qur’an menuju jalan-jalan yang paling baik, paling adil, dan paling benar. Seandainya kita menelusuri rinciannya secara sempurna, niscaya kita akan mendatangkan seluruh Al-Qur’an yang agung; karena cakupannya terhadap seluruh petunjuk yang ada di dalamnya menuju kebaikan dunia dan akhirat. Akan tetapi kami – insya Allah Ta’ala – akan menyebutkan secara global dan memadai dari berbagai sisi yang banyak dari petunjuk Al-Qur’an kepada jalan yang lebih lurus…”
Kemudian beliau (Asy-Syinqithi) memaparkan sejumlah permasalahan akidah, ibadah, dan sosial.
Sesungguhnya ia – wahai kaum mukminin – adalah sebuah ayat yang memutus jalan bagi orang-orang yang kalah (bermental pecundang) dari kaum muslimin, dan orang-orang zindik, yang menyangka – karena kebodohan mereka – bahwa Al-Qur’an ini hanyalah sekadar kitab yang berisi pelembut hati (raqaiq) dan nasihat, serta hanya menangani permasalahan hukum yang terbatas! Adapun masalah-masalah besar, seperti masalah politik, hubungan internasional, dan semisalnya, maka (mereka mengira) Al-Qur’an tidak memiliki solusi yang memuaskan dalam menangani masalah-masalah tersebut!!
Dan perkataan ini – di samping bahayanya secara syariat – merupakan adab yang buruk kepada Allah! Hal itu karena Rabb kita ketika menurunkan Al-Qur’an, Dia mengetahui bahwa para hamba akan menghadapi berbagai perubahan yang banyak, keterbukaan, hubungan-hubungan, dan hal-hal baru. Sehingga Dia tidak membiarkan mereka tersia-sia tanpa bimbingan. Justru Dia menjaga Al-Qur’an ini untuk mereka agar mereka kembali kepada petunjuk-petunjuknya, dan Dia menjaga sunnah nabi-Nya ﷺ untuk mereka; agar menjadi penjelas bagi kaidah-kaidah Al-Qur’an yang masih global, bahkan Dia juga menjadikan di dalam Sunnah hukum-hukum yang berdiri sendiri.
Maka barangsiapa yang menginginkan petunjuk, ia akan mendapatinya pada keduanya (Al-Qur’an dan Sunnah), dan barangsiapa yang pada matanya terdapat kerabunan, atau di dalam hatinya terdapat kebutaan, maka hendaklah ia mencela dirinya sendiri, dan janganlah sekali-kali ia menuduh teks-teks wahyu memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan.
(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)
____________________
Footnote:
([1]) Ad-Durr Al-Manthur: (5/245)






