Sebagian wanita mengqadha` hutang puasa Ramadhannya akan tetapi dengan cara berturut-turut tanpa pemisah, dengan persangkaan darinya bahwa qadha` darinya tidak akan diterima kecuali dengan dilakukan berturut-turut. Mereka berdalil dengan hadits yang telah dikeluarkan oleh ad-Daraquthniy dan al-Baihaqiy dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ عَلَيْهِ صَوْمُ رَمَضَانَ، فَلْيَسْرُدْهُ وَلَا يُقَطِّعْهُ»
“Barangsiapa memiliki tanggungan hutang puasa Ramadhan, maka hendaknya dia melakukannya secara berturut-turut dan tidak memotong-motongnya.” ([1])
Akan tetapi hadits tersebut tidak shahih dari Rasulullah ﷺ, dan yang benar adalah boleh bagi wanita untuk mengqadha` puasanya dari hari-hari yang terpisah-pisah. Dan dalil-dalil masalah tersebut adalah banyak; di antaranya:
Firman-Nya subhaanahu wata’aalaa:
﴿فَعِدَّةٌ مِّن أَيَّامٍ أُخَرَ ﴾
“… maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (QS. QS. Al-Baqarah: 184)
Maka Allah membuat perintah itu secara mutlak, dan tidak mengikatnya dengan melakukannya secara berurutan.
Al-Bukhari telah mengeluarkan hadits secara mu’allaq dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa dia berkata,
لاَ بَأْسَ أَنْ يُفَرَّقَ
“Tidak masalah (hutang puasa Ramadhan) dipisah-pisah.” ([2])
Pada riwayat ad-Daraquthni dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata,
يُوَاتِرُهُ إِنْ شَاءَ
“Dia (boleh) mengerjakannya berurutan dengan selang waktu, jika dia mau.” ([3])
Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqiy telah mengeluarkan hadits dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata:
«إِنْ شِئْتَ فَاقْضِ رَمَضَانَ مُتَتَابِعًا، وَإِنْ شِئْتَ مُتَفَرِّقًا»
“Jika kamu mau, maka silahkan engkau mengqadha’nya secara berurutan, dan jika engkau mau, maka (silahkan mengqadha`nya) secara terpisah-pisah.” ([4])
Imam madzhab empat berpendapat kepada bolehnya memilih antara mengqadha` puasa Ramadhan dengan berurutan dan dengan memisah-misahnya.
Imam Ahmad ditanya tentang qadha’ puasa Ramadhan, maka beliau menjawab,
إِنْ شَاءَ فَرَّقَ، وَإِنْ شَاءَ تَابَعَ
“Jika dia mau maka dia memisah-misahkannya, dan jika dia mau maka dia mengurutkannya.” ([5])
(Diterjemahkan oleh Muhammad Syahri dari kitab Akhthaa-unaa Fii Ramadhaan; al-Akhthaa` al-Khaashshah bi an-Nisaa`, Syaikh Nada Abu Ahmad)
_____________________________________________________________
Footnote:
([1]) HR. Al-Baihaiqy dalam al-Kubra(8244), ad-Daraquthni (2313)-pent
([2]) HR. Al-Bukhari (3/35)-pent
([3]) HR. Ibnu Abi Syaibah (9144)-pent
([4]) HR. Ibnu Abi Syaibah (9115)-pent
([5]) Masaa-ilu al-Imaam Ahmad, oleh Abu Dawud






