Ibnu Mas’ud mengatakan,
الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الْبَقَلَ
“Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.”([1])
Al Qasim bin Muhammad pernah ditanya tentang nyanyian, lalu beliau menjawab,
أَنْهَاكَ عَنْهُ، وَأَكْرَهُهُ لَكَ. فَقَالَ: حَرَامٌ هُوَ؟ فَقَالَ: يَا أَخِيْ إِذَا مَيَّزَ اللهُ الْحَقَّ مِنَ الْبَاطِلِ فِيْ أَيِّهِمَا تُجْعَلُ الْغِنَاءُ؟
“Aku melarangmu dari nyanyian (musik) dan aku membenci hal itu untukmu.” Lalu orang yang bertanya tadi mengatakan, “Apakah nyanyian itu haram?” Al-Qasim pun mengatakan,”Wahai saudaraku, jika Allah telah memisahkan yang haq dan yang batil, lantas pada posisi mana ‘nyanyian’ itu akan diletakkan?”([2])
‘Umar bin ‘Abdul Aziz pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah,
لِيَكُنْ أَوَّلَ مَا يَعْتَقِدُوْنَ مِنْ أَدَبِكَ بُغْضُ الْمَلَاهِيْ الَّتِيْ بَدَؤُهَا مِنَ الشَّيْطَانِ، وَعَاقِبَتُهَا سُخْطُ الرَّحْمٰنِ، فَإِنَّهُ بَلَغَنِيْ عَنِ الثِّقَاتِ مِنْ حَمَلَةِ الْعِلْمِ أَنَّ حُضُوْرَ الْمَعَازِفِ وَاسْتِمَاعَ الْأَغَانِيْ وَاللَّهْجَ بِهَا يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْعَشَبَ الْمَاءُ. وَلَعَمْرِيْ لَتُوْقِيَ ذَلِكَ بِتَرْكِ حُضُوْرِ الْمَوَاطِنِ فِيْ قَلْبِهِ.
“Hendaknya perkara pertama yang mereka yakini dari pendidikanmu adalah kebencian terhadap nyanyian (musik) yang permulaannya adalah dari syetan, dan akhirnya adalah kemurkaan Dzat Yang Maha Rahman. Karena sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kalangan pengemban ilmu yang tsiqat, bahwa hadirnya alat-alat musik, mendengarkan nyanyian, dan bersenandung dengannya akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagai air menumbuhkan rerumputan. Dan demi Allah, yang demikian itu bisa dijaga dengan meninggalkan kehadiran tempat-tempat tersebut di dalam hatinya.([3])
Fudhail bin Iyadh mengatakan,
الْغِنَاءُ رُقْيَةُ الزِّنَا
“Nyanyian adalah mantera-mantera zina.”
Adh-Dhahhak mengatakan,
الْغِنَاءُ مُفْسِدَةٌ لِلْقَلْبِ، وَمُسْخِطَةٌ لِلرَّبِّ.
“Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”
Yazid bin Al Walid mengatakan,
يَا بَنِيْ أُمَيَّةَ، إِيَّاكُمْ وَالْغِنَاءَ، فَإِنَّهُ يُزِيْدُ الشَّهْوَةَ، وَيُهْدِمُ الْمُرُوْءَةَ وَإِنَّهُ لَيَنُوْبُ عَنِ الْخَمْرِ، وَيَفْعَلُ مَا يَفْعَلُهُ السَّكَرَةُ.
“Wahai Bani Umayyah, hati-hatilah kalian dari nyanyian (musik), karena dia menambah syahwat, menhancurkan harga diri, dan benar-benar dia bisa menggantikan khomer, dan melakukan apa yang dilakukan oleh pemabuk.”([4])
(Bersambung)
(Diambil dari buku Kumpulan Makalah Kajian Syarah Sullamauttaufik oleh Ust. Muhammad Syahri di Rumah Bpk. H. Jarot Jawi Prigen)
__________________________________
Footnote:
([1]) al-Amru bi al-Ittiba’ Wan Nahyu ‘An al-Ibtida’, Jalaluddin as-Suyuthi, 33
([2]) al-Amru bi al-Ittiba’ Wan Nahyu ‘An al-Ibtida’, Jalaluddin as-Suyuthi, 33
([3]) al-Amru bi al-Ittiba’ Wan Nahyu ‘An al-Ibtida’, Jalaluddin as-Suyuthi, 33-34
([4]) al-Amru bi al-Ittiba’ Wan Nahyu ‘An al-Ibtida’, Jalaluddin as-Suyuthi, 33-34






