Semua Amal Tergantung Niat

Seluruh Amal Tergantung Niat

 

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»

 

“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya.” ([1])

 

Ini adalah hadits agung yang merepresentasikan salah satu kaidah paling agung dalam Islam.. Kaidah agung ini hidup bersama manusia dalam setiap gerak dan diamnya.

 

Dan karena diterimanya amal adalah tujuan akhir yang diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang yang beramal, dan ikhlas merupakan salah satu dari dua rukun diterimanya amal; maka memberikan perhatian kepadanya (keikhlasan) termasuk perkara yang paling penting, dan mewaspadai hilangnya ikhlas atau melemahnya termasuk kewajiban yang paling utama. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih manis dari keikhlasan beserta buahnya, dan tidak ada yang lebih ditakutkan bagi seorang mukmin daripada gugurnya amal, baik secara total maupun parsial!

 

Maka sudah sepatutnya bagi seorang hamba untuk menghadirkan hadits ini dalam seluruh amalnya; dan bersungguh-sungguh melatih dirinya agar amalnya semata-mata karena Allah, mencari rida-Nya, dan menghindari murka-Nya, serta membiasakan dirinya untuk tidak menoleh kepada makhluk, tidak pula mengharapkan manfaat atau pujian dari mereka. Jika pun terjadi sesuatu dari hal tersebut—tanpa disengaja—maka hal itu tidak akan membahayakannya, bahkan hal tersebut bisa jadi merupakan sebagian dari kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.([2])

 

Dengan keberkahan keikhlasan, Allah memalingkan perbuatan keji dari (Nabi) Yusuf ‘alaihissalam.

 

Dan dengan keberkahan keikhlasan, Allah mengampuni seorang wanita pezina yang memberi minum seekor anjing([3])tanpa mengharap apa pun kecuali kepada Rabbnya Yang Maha Tinggi!

 

Sebaliknya, renungkanlah amal-amal besar yang menjadi rusak disebabkan oleh niat yang buruk. Hal itu sebagaimana ketika Nabi ﷺ ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian, atau karena fanatisme golongan, atau agar posisinya terlihat di barisan pertempuran: “Manakah di antara hal tersebut yang termasuk (berjuang) di jalan Allah?” Beliau bersabda:

 

«مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ»

 

“Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.” ([4])

 

Tidak ada suatu amal pun dalam kehidupan kita—setinggi apa pun kedudukannya—melainkan ia terikat dengan kaidah agung ini: “Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya.” Di antara contohnya: Berbuat baik kepada makhluk dengan harta, perkataan, atau perbuatan; karena itu semua adalah kebaikan yang indah dan agung, dan jika diiringi dengan niat yang saleh maka pahalanya akan jauh lebih besar, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

﴿لَّا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

 

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan rahasia mereka, kecuali (bisikan rahasia) dari orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 114)

 

Dan dalam riwayat Al-Bukhari dari beliau ﷺ:

 

«مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّاهَا اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ»

 

“Barangsiapa yang mengambil harta manusia (berutang) dengan niat ingin mengembalikannya, niscaya Allah akan menunaikannya untuknya (memudahkannya untuk melunasi). Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan niat ingin merusaknya (tidak mengembalikannya), niscaya Allah akan membinasakannya.” ([5])

 

Maka perhatikanlah bagaimana niat yang saleh dijadikan sebagai sebab yang kuat untuk mendapatkan rezeki dan pelunasan dari Allah, dan (sebaliknya) niat yang buruk dijadikan sebab kebinasaan dan kehancuran!

 

Demikian pula:

 

«مَنْ قَصَدَ بِكَسْبِهِ وَأَعْمَالِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْعَادِيَّةِ الِاسْتِعَانَةَ بِذَلِكَ عَلَى الْقِيَامِ بِحَقِّ اللهِ وَقِيَامِهِ بِالْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحَبَّاتِ، وَاسْتَصْحَبَ هَذِهِ النِّيَّةَ الصَّالِحَةَ فِي أَكْلِهِ وَشُرْبِهِ، وَنَوْمِهِ وَرَاحَتِهِ وَمَكَاسِبِهِ؛ انْقَلَبَتْ عَادَاتُهُ عِبَادَاتٍ، وَبَارَكَ اللهُ لِلْعَبْدِ فِي أَعْمَالِهِ، وَفَتَحَ لَهُ مِنْ أَبْوَابِ الْخَيْرِ وَالرِّزْقِ أُمُورًا لَا يَحْتَسِبُهَا وَلَا تَخْطُرُ لَهُ عَلَى بَالٍ، وَمَنْ فَاتَتْهُ هَذِهِ النِّيَّةُ الصَّالِحَةُ – لِجَهْلِهِ أَوْ تَهَاوُنِهِ – فَقَدْ فَاتَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ جِدًّا»

 

“Barangsiapa yang dengan pekerjaan dan aktivitas duniawi serta rutinitasnya bermaksud untuk menjadikannya sebagai sarana penunjang dalam menunaikan hak Allah, serta menunaikan berbagai kewajiban dan amalan sunah, dan dia menyertakan niat yang saleh ini di dalam makan, minum, tidur, istirahat, dan pekerjaannya; maka kebiasaannya (rutinitasnya) akan berubah menjadi ibadah. Allah akan memberkahi hamba tersebut dalam amal-amalnya, dan membukakan baginya pintu-pintu kebaikan serta rezeki berupa perkara-perkara yang tidak ia sangka-sangka dan tidak pernah terlintas di benaknya. Dan barangsiapa yang luput dari niat yang saleh ini—karena kebodohan atau kelalaiannya—maka ia telah kehilangan kebaikan yang sangat banyak.” ([6])

 

Kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, serta dalam segala hal yang kita lakukan maupun yang kita tinggalkan.

 

 

(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)

____________________

Footnote:

 

([1]) HR. Al-Bukhari no. (1), dan Muslim no. (1907) dengan lafaz: “Innamal a’maalu binniyyah” (Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat).

([2]) Bahjah Qulub Al-Abrar: hal. 6.

([3]) Shahih Muslim no. (2245).

([4]) HR. Al-Bukhari: (123), Muslim: (1904).

([5]) Riwayat Al-Bukhari no. (2257).

([6]) Lihat: Bahjah Qulub Al-Abrar (hal: 27).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *