oleh: al-Ustadz Muslim al-Atsariy
HADITS ‘UMAROH BIN RUAIBAH ATS-TSAQOFIY radhiyallaahu ‘anhu
عَنْ عُمَارَةَ ابْنِ رُؤَيْبَةَ ، قَالَ: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ: “قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا” وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ
Dari ‘Umarah bin Ruaibah (Ats-Tsaqofiy), dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar (berkhutbah pada hari jum’at) sedang mengangkat kedua tangannya.
Maka ‘Umarah berkata: “Semoga Allah memburukkan dua tangan itu! Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidaklah lebih dari mengisyaratkan dengan tangannya begini”.
Dia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya”.([1])
FAWAID HADITS:
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, antara lain:
1- Kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar.
2- Keutamaan sahabat ‘Umarah bin Ruaibah Ats-Tsaqofiy yang telah melakukan nahi mungkar.
3- Khutbah jum’at dilakukan dengan berdiri di atas mimbar, dan diselingi dengan duduk.
4- Khutbah jum’at ditutup dengan doa.
5- Khotib berdoa di atas mimbar dengan berisyarat dengan jari telunjuknya, bukan dengan mengangkat kedua tangannya.
6- Perkataan dan perbuatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dan ukuran kebenaran.
7- Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (wafat th 620 H) berkata: “Khathib disukai mendoakan kebaikan untuk mukminin dan mukminat serta untuk dirinya dan hadirin.
Jika dia mendoakan kebaikan untuk penguasa kaum muslimin, maka itu merupakan kebaikan…Karena jika penguasa kaum muslimin baik, padanya juga terdapat kebaikan kaum muslimin.
Maka doa kebaikan untuk penguasa kaum muslimin, merupakan doa kebaikan untuk kaum muslimin, dan itu disukai, bukan makruh”.([2])
8- Syaikh DR. Anis bin Ahmad bin Thahir hafizhohulloh berkata: “(Termasuk penyimpangan para khathib adalah) mendoakan kebaikan untuk orang-orang tertentu setiap jum’ah, dan selalu menetapi hal itu seperti (menetapi) Sunnah.
Adapun mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin semuanya, dan untuk penguasa secara khusus terus-menerus, maka ini perkara yang disyari’atkan, tidak terlarang.
Dan telah diriwayatkan dari Abu Musa bahwa jika beliau berkhutbah, beliau memuji Allah, menyanjungNya, memohonkan shalawat kepada Allah untuk Nabi, dan mendoakan kebaikan untuk Abu Bakar dan Umar”.([3])
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits–hadits yang agung ini. Semoga Alloh ﷻ selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Ditulis oleh Muslim Atsari,
Sragen, Dhuha, Jum’at, 3-Jumadil Akhir-1443 H / 7-Januari-2022 M
_____________________
Footnote:
([1]) HR. Muslim, no. 874/53, dan ini lafazhnya; Tirmidzi, no. 515; Nasai, no. 1412; Abu Dawud, no. 1104; Ahmad, no. 17219, 17221, 17224, 18299; Ibnu Khuzaimah, no. 1451, 1793, 1794; Ibnu Hibban, no. 882
([3]) Hadyun Nabi Fii Khutbatil Jum’ah, hal:16






