Kesalahan-Kesalahan Kaum Wanita (12) Qadha puasa Ramadhan berturut-turut

Sebagian wanita mengqadha` hutang puasa Ramadhannya akan tetapi dengan cara berturut-turut tanpa pemisah, dengan persangkaan darinya bahwa qadha` darinya tidak akan diterima kecuali dengan dilakukan berturut-turut. Mereka berdalil dengan hadits yang telah dikeluarkan oleh ad-Daraquthniy dan al-Baihaqiy dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

 

pinup pin up pin up pinup

«مَنْ كَانَ عَلَيْهِ صَوْمُ رَمَضَانَ، فَلْيَسْرُدْهُ وَلَا يُقَطِّعْهُ»

 

“Barangsiapa memiliki tanggungan hutang puasa Ramadhan, maka hendaknya  dia melakukannya secara berturut-turut dan tidak memotong-motongnya.” ([1])

 

Akan tetapi hadits tersebut tidak shahih dari Rasulullah ﷺ, dan yang benar adalah boleh bagi wanita untuk mengqadha` puasanya dari hari-hari yang terpisah-pisah. Dan dalil-dalil masalah tersebut adalah banyak; di antaranya:

 

Firman-Nya subhaanahu wata’aalaa:

 

﴿فَعِدَّةٌ مِّن أَيَّامٍ أُخَرَ ﴾

 

“… maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (QS. QS. Al-Baqarah: 184)

 

Maka Allah membuat perintah itu secara mutlak, dan tidak mengikatnya dengan melakukannya secara berurutan.

 

Al-Bukhari telah mengeluarkan hadits secara mu’allaq dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa dia berkata,

 

لاَ بَأْسَ أَنْ يُفَرَّقَ

 

“Tidak masalah (hutang puasa Ramadhan) dipisah-pisah.” ([2])

 

Pada riwayat ad-Daraquthni dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata,

 

يُوَاتِرُهُ إِنْ شَاءَ

 

“Dia (boleh) mengerjakannya berurutan dengan selang waktu, jika dia mau.” ([3])

 

 Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqiy telah mengeluarkan hadits dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata:

 

«إِنْ شِئْتَ فَاقْضِ رَمَضَانَ مُتَتَابِعًا، وَإِنْ شِئْتَ مُتَفَرِّقًا»

 

“Jika kamu mau, maka silahkan engkau mengqadha’nya secara berurutan, dan jika engkau mau, maka (silahkan mengqadha`nya) secara terpisah-pisah.” ([4])

 

Imam madzhab empat berpendapat kepada bolehnya memilih antara mengqadha` puasa Ramadhan dengan berurutan dan dengan memisah-misahnya.

 

Imam Ahmad ditanya tentang qadha’ puasa Ramadhan, maka beliau menjawab,

 

إِنْ شَاءَ فَرَّقَ، وَإِنْ شَاءَ تَابَعَ

 

“Jika dia mau maka dia memisah-misahkannya, dan jika dia mau maka dia mengurutkannya.” ([5])

 

(Diterjemahkan oleh Muhammad Syahri dari kitab Akhthaa-unaa Fii Ramadhaan; al-Akhthaa` al-Khaashshah bi an-Nisaa`, Syaikh Nada Abu Ahmad)

 

_____________________________________________________________

Footnote:

([1]) HR. Al-Baihaiqy dalam al-Kubra(8244), ad-Daraquthni (2313)-pent

([2]) HR. Al-Bukhari (3/35)-pent

([3]) HR. Ibnu Abi Syaibah (9144)-pent

([4]) HR. Ibnu Abi Syaibah (9115)-pent

([5]) Masaa-ilu al-Imaam Ahmad, oleh Abu Dawud

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *