7 Amalan Utama di Bulan Ramadan
Bulan Ramadan adalah waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada beberapa amalan utama yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan di bulan penuh berkah ini.
1. Berpuasa
Puasa Ramadan adalah pilar Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu. Dengan berpuasa, kita bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga melatih jiwa untuk mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan.
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ }
Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(Surat Al-Baqarah: 183)
Manakala keutamaan berpuasa dengan penuh keimanan dan harapan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pengampunan dosa.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Man ṣāma ramaḍāna īmānan waḥtisāban ghufira lahū mā taqaddama min żanbihī
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)
2. Sholat Tarawih
Sholat Tarawih merupakan sholat sunnah yang sangat dianjurkan pada malam-malam bulan Ramadan. Sholat ini menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Man qāma ramaḍāna īmānan waḥtisāban ghufira lahū mā taqaddama min żanbihī
“Barang siapa sholat (Tarawih) pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)
3. Membaca Al-Qur’an Ditingkatkan
Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memperbanyak membaca, mentadaburi, dan mengkaji ayat-ayat suci Al-Qur’an pada bulan ini.
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ فِیهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدࣰى لِّلنَّاسِ وَبَیِّنَـٰتࣲ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡیَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِیضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرࣲ فَعِدَّةࣱ مِّنۡ أَیَّامٍ أُخَرَۗ یُرِیدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡیُسۡرَ وَلَا یُرِیدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُوا۟ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Syahru ramaḍānallażī unzila fīhil-qur`ānu hudallin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān, fa man syahida mingkumusy-syahra falyaṣum-h, wa mang kāna marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar, yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usra wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la’allakum tasykurụn
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya itu) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(Surat Al-Baqarah: 185)
4. Meningkatkan Sedekah
Kedermawanan adalah sifat mulia yang sangat ditekankan dalam Islam, terutama di bulan Ramadan. Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam sendiri adalah teladan terbaik dalam hal kedermawanan.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
Kāna Rasūlullāhi shollallahu ‘alaihi wasallam ajwadan-nāsi, wa kāna ajwada mā yakūnu fī Ramaḍāna
“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan.”
(HR. Bukhari no. 1902 dan Muslim no. 2308 dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma)
5. Banyak Berdo’a
Bulan Ramadan merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdo’a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon kepada-Nya, terlebih lagi di bulan penuh rahmat ini.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِی عَنِّی فَإِنِّی قَرِیبٌۖ أُجِیبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡیَسۡتَجِیبُوا۟ لِی وَلۡیُؤۡمِنُوا۟ بِی لَعَلَّهُمۡ یَرۡشُدُونَ
Wa iżā sa`alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da’watad-dā’i iżā da’ānī falyastajībū lī wal yu`minū bī la’allahum yarsyudụn
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”
(Surat Al-Baqarah: 186)
Ada beberapa jenis doa yang disebutkan tidak akan tertolak, salah satunya adalah doa orang yang sedang berpuasa.
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
Tsalātsu da’awātin lā turaddu: da’watul wālidi, wa da’watus-ṣā`imi, wa da’watul musāfiri
“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3574 dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu)
6. I’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amalan ini sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, untuk mencari keutamaan malam Lailatul Qadar.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
Annan-Nabiyya shollallahu ‘alaihi wasallam kāna ya’takiful ‘asyral awākhira min Ramaḍāna ḥattā tawaffāhullāh
“Sesungguhnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan beliau.”
(HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172 dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha)
Malam Lailatul Qadar yang dicari saat I’tikaf merupakan malam yang penuh kemuliaan, di mana segala kebaikan dan pahala berlipat ganda.
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ
إِنَّاۤ أَنزَلۡنَـٰهُ فِی لَیۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ﴿١﴾ وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا لَیۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ﴿٢﴾ لَیۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَیۡرࣱ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرࣲ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ فِیهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرࣲ ﴿٤﴾ سَلَـٰمٌ هِیَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ﴿٥﴾
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm. Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr (1) Wa mā adrāka mā lailatul-qadr (2) Lailatul-qadri khairum min alfi syahr (3) Tanazzalul-malā`ikatu war-rūḥu fīhā bi`iżni rabbihim min kulli amr (4) Salāmun hiya ḥattā maṭla’il-fajr (5)
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (3) Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5).”
(Surat Al-Qadar: 1-5)
7. Umroh
Menunaikan ibadah Umroh di bulan Ramadan memiliki keutamaan yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amalan ini dianggap setara dengan melakukan ibadah Haji bersama Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.
فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً مَعِي
Fa inna ‘umratan fī Ramaḍāna taqdī ḥajjatan ma’ī
“Sesungguhnya umroh di bulan Ramadan setara dengan ibadah Haji bersamaku (Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam).”
(HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256 dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma)






