(10) Arahan Nabi ﷺ Untuk Menjaga Pahala Puasa

Allah ﷻ berfirman:
[arabic-font]۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبۡطِلُوٓاْ أَعۡمَٰلَكُمۡ ٣٣[/arabic-font] “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad (47): 33)
[arabic-font]وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ)رواه البخاري[/arabic-font] Dari Abu Hurairah I, dia berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta, dan amal dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah pada dia (hamba) meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. al-Bukhari)

Wahai hamba Allah:

1. Jagalah pahala puasa Anda dengan penjagaan yang sempurna.

Dan diantara bentuk penjagaan terhadap pahala puasa Anda adalah; jagalah lisan Anda, dan berfikirlah tentang kalimat tersebut sebelum Anda berbicara dengannya. Jika kalimat itu jujur, lagi bermanfaat, maka berbicaralah. Dan jika termasuk kedustaan, dan kalimat yang diharamkan, maka janganlah berbicara dengannya. Dikarenakan hal itu akan ditulis atas Anda termasuk dosa.

Dikarenakan juga hal itu akan mempengaruhi pahala puasa Anda, dan kadang akan menghilangkan pahala puasa Anda. Dan perhatikanlah hadits ini:
[arabic-font]مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ[/arabic-font] “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta, dan amal dusta, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan terhadap dia meninggalkan makan, dan minumnya.” (HR. al-Bukhari)

2. Menjauhlah dari majelis-majelis dan tempat-tempat yang dikhawatirkan Anda akan berbicara di dalamya dengan ucapan yang diharamkan. Seperti majelis basa-basi pada sebagian aparat, lalu Anda berbasa-basi dengannya dengan ucapan yang diharamkan, lalu ditulis atas Anda dosa ini, hingga Anda menyia-nyiakan pahala puasa Anda hanya karena Si fulan dan Fulanah. Waspadalah…

3. Janganlah Anda menulis kecuali ucapan yang selamat dari dusta, dan dosa. Oleh karena itulah waspadalah terhadap ceramah-ceramah yang Anda tulis, serta laporan-laporan yang Anda tulis. Dan setiap yang Anda tulis, jika diharamkan maka itu adalah kedustaan yang barangsiapa terjerumus di dalamnya, maka sungguh dia telah menyia-nyiakan pahala puasanya. Waspadalah…

4. Bertakwalah kepada Allah, wahai orang yang menulis di surat-surat kabar, atau majalah, atau jurnal, website-website, atau seminar-seminar atau selainnya. Jika apa yang Anda tulis termasuk yang diharamkan, maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah Anda menulisnya agar Anda tidak menyia-nyiakan pahala puasa Anda di dalam bulan Ramadhan atau selainnya. Bahkan Anda, wahai orang yang menulis perkara-perkara yang diharamkan di surat-surat kabar atau selainnya, bahwa dosa-dosa Anda akan menjadi lebih besar, dikarenakan Anda menyebarkan kebatilan dan kedustaan diantara para pencetak, dan manusia.

Maka bertaubatlah kepada Allah, dan berhentilah dari keburukan ini di bulan Ramadhan.

Berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
[arabic-font]إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ[/arabic-font] “Jika ada pada malam pertama dari bulan Ramadhan, maka syetan-syetan dan kejahatan bangsa Jin dibelenggu. Pintu-pintu neraka ditutup, lalu tidak dibuka darinya satu pintu pun. Dan pintu-pintu sorga dibuka, lalu tidak ditutup darinya satu pintu pun. Kemudian menyeru seorang penyeru, ‘Wahai para pencari kebaikan majulah; wahai pencari keburukan, berhentilah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari api neraka, dan itu berlaku setiap malam.” (HR. Ibnu Majah)

Maka malulah kepada Allah, sekalipun di dalam bulan Ramadhan ini.

5. Wahai laki-laki dan perempuan yang berpuasa, janganlah salah seorang diantara kalian melakukan satu amalpun hingga dia memikirkan apakah amal ini boleh ataukah tidak. Jika boleh, maka dia kerjakan, jika amal itu diharamkan, maka jangan mengerjakannya.

Dikarenakan Anda, jika Anda mengamalkan yang diharamkan, maka Anda telah menghadapkan amal Anda untuk hilang.

Inglatlah sabda Nabi ﷺ:
[arabic-font]مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ[/arabic-font] “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta, dan amal dusta, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan terhadap dia meninggalkan makan, dan minumnya.” (HR. al-Bukhari)

6. Berhatilah-hatilah dari berbuat bodoh, dan rendah terhadap manusia, atau anak-anak dan istri Anda.

Berdasarkan hadits Abu Hurairah I dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
[arabic-font]مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ[/arabic-font] “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta, dan amal dusta, dan berbuat bodoh, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan terhadap dia meninggalkan makan, dan minumnya.” (HR. al-Bukhari)
7. Hindarilah teriakan, ribut-ribut, dan pertentangan dengan batil. Agar Anda menjaga pahala puasa Anda.

Berdasarkan sabda beliau ﷺ,
[arabic-font]فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ[/arabic-font] “Maka jika ada pada hari puasa salah seorang diantara kalian, maka janganlah dia berbuat rafats pada hari itu, jangan berteriak. Maka jika ada seseorang yang mencelanya, atau memeranginya, maka hendaknya dia berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah sedang berpuasa.” (HR. Muslim)
Maka jika seseorang mencela Anda atau mencaci Anda, atau mengganggu Anda, maka ucapkan, ‘Aku berpuasa, aku sedang berpuasa.’

(Pelajaran Kesepuluh Dari Kitab an-Nabiy Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallama fii Ramadhaan (Tsalaatsuuna Darsan), Syaikh Muhammad bin Syami bin Mutho’in Syaibah, dialih bahasakan oleh Muhammad Syahri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *